Subscribe Twitter Facebook

Wednesday, March 24, 2010

Generasi Terbaik Dalam Sejarah

December 25th, 2008 Author: Abu Mushlih


“Belum pernah ada, dan tidak akan pernah ada suatu kaum yang serupa dengan mereka”

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Barangsiapa hendak mengambil teladan maka teladanilah orang-orang yang telah meninggal. Mereka itu adalah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di kalangan umat ini. Ilmu mereka paling dalam serta paling tidak suka membeban-bebani diri. Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah guna menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menyampaikan ajaran agama-Nya. Oleh karena itu tirulah akhlak mereka dan tempuhlah jalan-jalan mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.” (Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish shalih, hal. 198)

Pengertian Sahabat
Sahabat adalah orang yang berjumpa dengan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam keadaan muslim, meninggal dalam keadaan Islam, meskipun sebelum mati dia pernah murtad seperti Al Asy’ats bin Qais. Sedangkan yang dimaksud dengan berjumpa dalam pengertian ini lebih luas daripada sekedar duduk di hadapannya, berjalan bersama, terjadi pertemuan walau tanpa bicara, dan termasuk dalam pengertian ini pula apabila salah satunya (Nabi atau orang tersebut) pernah melihat yang lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu’anhu yang buta matanya tetap disebut sahabat (lihat Taisir Mushthalah Hadits, hal. 198, An Nukat, hal. 149-151)

Sikap Ahlus Sunnah terhadap para Sahabat
Syaikh Abu Musa Abdurrazzaq Al Jaza’iri hafizhahullah berkata, “Ahlus Sunnah wal Jama’ah As Salafiyun senantiasa mencintai mereka (para sahabat) dan sering menyebutkan berbagai kebaikan mereka. Mereka juga mendo’akan rahmat kepada para sahabat, memintakan ampunan untuk mereka demi melaksanakan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka mengatakan ; Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan keimanan. Dan janganlah Kau jadikan ada rasa dengki di dalam hati kami kepada orang-orang yang beriman, sesungguhnya Engkau Maha Lembut lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr : 10) Dan termasuk salah satu prinsip yang diyakini oleh Ahlus Sunnah As Salafiyun adalah menahan diri untuk tidak menyebut-nyebutkan kejelekan mereka serta bersikap diam (tidak mencela mereka, red) dalam menanggapi perselisihan yang terjadi di antara mereka. Karena mereka itu adalah pilar penopang agama, panglima Islam, pembantu-pembantu Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, penolong beliau, pendamping beliau serta pengikut setia beliau. Perbedaan yang terjadi di antara mereka adalah perbedaan dalam hal ijtihad. Mereka adalah para mujtahid yang apabila benar mendapatkan pahala dan apabila salah pun tetap mendapatkan pahala. “Itulah umat yang telah berlalu. Bagi mereka balasan atas apa yang telah mereka perbuat. Dan bagi kalian apa yang kalian perbuat. Kalian tidak akan ditanya tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah : 141). Barangsiapa yang mendiskreditkan para sahabat maka sesungguhnya dia telah menentang dalil Al Kitab, As Sunnah, Ijma’ dan akal.” (Al Is’aad fii Syarhi Lum’atil I’tiqaad, hal. 77)

Dalil-dalil Al Kitab tentang keutamaan para Sahabat

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Muhammad adalah utusan Allah beserta orang-orang yang bersamanya adalah bersikap keras kepada orang-orang kafir dan saling menyayangi sesama mereka. Engkau lihat mereka itu ruku’ dan sujud senantiasa mengharapkan karunia dari Allah dan keridhaan-Nya.” (QS. Al Fath)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Bagi orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin yang diusir dari negeri-negeri mereka dan meninggalkan harta-harta mereka karena mengharapkan keutamaan dari Allah dan keridhaan-Nya demi menolong agama Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Sedangkan orang-orang yang tinggal di negeri tersebut (Anshar) dan beriman sebelum mereka juga mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin) dan di dalam hati mereka tidak ada rasa butuh terhadap apa yang mereka berikan dan mereka lebih mengutamakan saudaranya daripada diri mereka sendiri walaupun mereka juga sedang berada dalam kesulitan.” (QS. Al Hasyr : 8-9)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang yang beriman (para sahabat Nabi) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon (Bai’atu Ridwan). Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada mereka dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al Fath : 18)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang terlebih dulu (berjasa kepada Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah telah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. dan Allah telah mempersiapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS. At Taubah : 100)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari dimana Allah tidak akan menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersamanya. Cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka.” (QS. At Tahrim : (lihat Al Is’aad, hal. 77-78)

Dalil-dalil dari As Sunnah tentang keutamaan para Sahabat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencela seorang pun di antara para sahabatku. Karena sesungguhnya apabila seandainya ada salah satu di antara kalian yang bisa berinfak emas sebesar Gunung Uhud maka itu tidak akan bisa menyaingi infak salah seorang di antara mereka; yang hanya sebesar genggaman tangan atau bahkan setengahnya saja.” (Muttafaq ‘alaih)
Beliau juga bersabda, “Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (Muttafaq ‘alaih)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bintang-bintang itu adalah amanat bagi langit. Apabila bintang-bintang itu telah musnah maka tibalah kiamat yang dijanjikan akan menimpa langit. Sedangkan aku adalah amanat bagi para sahabatku. Apabila aku telah pergi maka tibalah apa yang dijanjikan Allah akan terjadi kepada para sahabatku. Sedangkan para sahabatku adalah amanat bagi umatku. Sehingga apabila para sahabatku telah pergi maka akan datanglah sesuatu (perselisihan dan perpecahan, red) yang sudah dijanjikan Allah akan terjadi kepada umatku ini.” (HR. Muslim)
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencela para sahabatku maka dia berhak mendapatkan laknat dari Allah, laknat para malaikat dan laknat dari seluruh umat manusia.” (Ash Shahihah : 234)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Apabila disebutkan tentang para sahabatku maka diamlah.” (Ash Shahihah : 24) (lihat Al Is’aad, hal. 78)

Dalil Ijma’ tentang keutamaan para Sahabat

Imam Ibnush Shalah rahimahullah berkata di dalam kitab Mukaddimah-nya, “Sesungguhnya umat ini telah sepakat untuk menilai adil (terpercaya dan taat) kepada seluruh para sahabat, begitu pula terhadap orang-orang yang terlibat dalam fitnah yang ada di antara mereka. hal ini sudah ditetapkan berdasarkan konsensus/kesepakatan para ulama yang pendapat-pendapat mereka diakui dalam hal ijma’.”
Imam Nawawi rahimahullah berkata di dalam kitab Taqribnya, “Semua sahabat adalah orang yang adil, baik yang terlibat dalam fitnah maupun tidak, ini berdasarkan kesepakatan para ulama yang layak untuk diperhitungkan pendapatnya.”
Al Hafizh Ibnu Hajar berkata di dalam kitab Al Ishabah, “Ahlus Sunnah sudah sepakat untuk menyatakan bahwa semua sahabat adalah adil. Tidak ada orang yang menyelisihi dalam hal itu melainkan orang-orang yang menyimpang dari kalangan ahli bid’ah.”

Imam Al Qurthubi mengatakan di dalam kitab Tafsirnya, “Semua sahabat adalah adil, mereka adalah para wali Allah ta’ala serta orang-orang suci pilihan-Nya, orang terbaik yang diistimewakan oleh-Nya di antara seluruh manusia ciptaan-Nya sesudah tingkatan para Nabi dan Rasul-Nya. Inilah madzhab Ahlus Sunnah dan dipegang teguh oleh Al Jama’ah dari kalangan para imam pemimpin umat ini. Memang ada segolongan kecil orang yang tidak layak untuk diperhatikan yang menganggap bahwa posisi para sahabat sama saja dengan posisi orang-orang selain mereka.” (lihat Al Is’aad, hal. 78)

Urutan keutamaan para Sahabat

Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah berkata, “Para sahabat itu memiliki keutamaan yang bertingkat-tingkat.
[1] Yang paling utama di antara mereka adalah khulafa rasyidin yang empat; Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan Ali, radhiyallahu’anhum al jamii’. Mereka adalah orang yang telah disabdakan oleh Nabi ‘alaihi shalatu wa salam, “Wajib bagi kalian untuk mengikuti Sunnahku dan Sunnah khulafa rasyidin yang berpetunjuk sesudahku, gigitlah ia dengan gigi geraham kalian.”

[2] Kemudian sesudah mereka adalah sisa dari 10 orang yang diberi kabar gembira pasti masuk surga selain mereka, yaitu : Abu ‘Ubaidah ‘Aamir bin Al Jarrah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid, Zubeir bin Al Awwaam, Thalhah bin Ubaidillah dan Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhum.

[3] Kemudian diikuti oleh Ahlul Badar, lalu

[4] Ahlu Bai’ati Ridhwan, Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang yang beriman (para sahabat Nabi) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon (Bai’atu Ridwan). Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada mereka dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al Fath : 18).

[5] Kemudian para sahabat yang beriman dan turut berjihad sebelum terjadinya Al Fath. Mereka itu lebih utama daripada sahabat-sahabat yang beriman dan turut berjihad setelah Al Fath. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tidaklah sama antara orang yang berinfak sebelum Al Fath di antara kalian dan turut berperang. Mereka itu memiliki derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang yang berinfak sesudahnya dan turut berperang, dan masing-masing Allah telah janjikan kebaikan (surga) untuk mereka.” (QS. Al Hadid : 10). Sedangkan yang dimaksud dengan Al Fath di sini adalah perdamaian Hudaibiyah.

[6] Kemudian kaum Muhajirin secara umum,

[7] kemudian kaum Anshar. Sebab Allah telah mendahulukan kaum Muhajirin sebelum Anshar di dalam Al Qur’an, Allah subhanahu berfirman (yang artinya), “Bagi orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin yang diusir dari negeri-negeri mereka dan meninggalkan harta-harta mereka karena mengharapkan keutamaan dari Allah dan keridhaan-Nya demi menolong agama Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hasyr : 8). Mereka itulah kaum Muhajirin. Kemudian Allah berfirman tentang kaum Anshar, Sedangkan orang-orang yang tinggal di negeri tersebut (Anshar) dan beriman sebelum mereka juga mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin) dan di dalam hati mereka tidak ada rasa butuh terhadap apa yang mereka berikan dan mereka lebih mengutamakan saudaranya daripada diri mereka sendiri walaupun mereka juga sedang berada dalam kesulitan. Dan barangsiapa yang dijaga dari rasa bakhil dalam jiwanya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al Hasyr : 9). Allah mendahulukan kaum Muhajirin dan amal mereka sebelum kaum Anshar dan amal mereka yang menunjukkan bahwasanya kaum Muhajirin lebih utama. Karena mereka rela meninggalkan negeri tempat tinggal mereka, meninggalkan harta-harta mereka dan berhijrah di jalan Allah, itu menunjukkan ketulusan iman mereka…” (Ta’liq ‘Aqidah Thahawiyah yang dicetak bersama Syarah ‘Aqidah Thahawiyah Darul ‘Aqidah, hal. 492-494)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Sebab berbedanya martabat para sahabat adalah karena perbedaan kekuatan iman, ilmu, amal shalih dan keterdahuluan dalam memeluk Islam. Apabila dilihat secara kelompok maka kaum Muhajirin paling utama kemudian diikuti oleh kaum Anshar. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sungguh Allah telah menerima taubat Nabi, kaum Muhajirin dan kaum Anshar.” (QS. At Taubah : 117). Hal itu disebabkan mereka (Muhajirin) memadukan antara hijrah meninggalkan negeri dan harta benda mereka dengan pembelaan mereka (terhadap dakwah Nabi di Mekkah, pent). Sedangkan orang paling utama di antara para sahabat adalah Abu Bakar, kemudian Umar. Hal itu berdasarkan ijma’. Kemudian ‘Utsman, kemudian ‘Ali. Ini menurut pendapat jumhur Ahlis Sunnah yang sudah mantap dan mapan setelah sebelumnya sempat terjadi perselisihan dalam hal pengutamaan antara Ali dengan ‘Utsman. Ketika itu sebagian ulama lebih mengutamakan ‘Utsman kemudian diam, ada lagi ulama lain yang lebih mendahulukan ‘Ali kemudian baru ‘Utsman, dan ada pula sebagian lagi yang tawaquf tidak berkomentar tentang pengutamaan ini. Orang yang berpendapat bahwa ‘Ali lebih utama daripada ‘Utsman maka tidak dicap sesat, karena memang ada sebagian (ulama) Ahlus Sunnah yang berpendapat demikian.” (Mudzakkirah ‘alal ‘Aqidah Wasithiyah, hal. 77)

Menyikapi polemik yang terjadi di kalangan para Sahabat

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Sikap mereka (Ahlus Sunnah) dalam menyikapi hal itu ialah; sesungguhnya polemik yang terjadi di antara mereka merupakan (perbedaan yang muncul dari) hasil ijtihad dari kedua belah pihak (antara pihak ‘Ali dengan pihak Mu’awiyah, red), bukan bersumber dari niat yang buruk. Sedangkan bagi seorang mujtahid apabila ia benar maka dia berhak mendapatkan dua pahala, sedangkan apabila ternyata dia tersalah maka dia berhak mendapatkan satu pahala. Dan polemik yang mencuat di tengah mereka bukanlah berasal dari keinginan untuk meraih posisi yang tinggi atau bermaksud membuat kerusakan di atas muka bumi; karena kondisi para sahabat radhiyallahu’anhum tidak memungkinkan untuk itu. Sebab mereka adalah orang yang paling tajam akalnya, paling kuat keimanannya, serta paling gigih dalam mencari kebenaran. Hal ini selaras dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik umat manusia adalah orang di jamanku (sahabat).” (HR. Bukhari dan Muslim) Dengan demikian maka jalan yang aman ialah kita memilih untuk diam dan tidak perlu sibuk memperbincangkan polemik yang terjadi di antara mereka dan kita pulangkan perkara mereka kepada Allah; sebab itulah sikap yang lebih aman supaya tidak memunculkan rasa permusuhan atau kedengkian kepada salah seorang di antara mereka.” (Mudzakkirah ‘alal ‘Aqidah Wasithiyah, hal. 82)

Keterjagaan para Sahabat

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “(Individu) Para sahabat bukanlah orang-orang yang ma’shum dan terbebas dari dosa-dosa. Karena mereka bisa saja terjatuh dalam maksiat, sebagaimana hal itu mungkin terjadi pada orang selain mereka. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang paling layak untuk meraih ampunan karena sebab-sebab sebagai berikut :

Mereka berhasil merealisasikan iman dan amal shalih
Lebih dahulu memeluk Islam dan lebih utama, dan terdapat hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa mereka adalah sebaik-baik generasi (sebaik-baik umat manusia, red)
Berbagai amal yang sangat agung yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang selain mereka, seperti terlibat dalam perang Badar dan Bai’atur Ridhwan
Mereka telah bertaubat dari dosa-dosa, sedangkan taubat dapat menghapus apa yang dilakukan sebelumnya.
Berbagai kebaikan yang akan menghapuskan berbagai amal kejelekan
Adanya ujian yang menimpa mereka, yaitu berbagai hal yang tidak disenangi yang menimpa orang; sedangkan keberadaan musibah itu bisa menghapuskan dan menutup bekas-bekas dosa.
Kaum mukminin senantiasa mendo’akan mereka
Syafa’at dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan mereka adalah umat manusia yang paling berhak untuk memperolehnya.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan itulah maka perbuatan sebagian mereka yang diingkari (karena salah) adalah sangat sedikit dan tenggelam dalam (lautan) kebaikan mereka. Hal itu dikarenakan mereka adalah sebaik-baik manusia setelah para Nabi dan juga orang-orang terpilih di antara umat ini, yang menjadi umat paling baik. Belum pernah ada dan tidak akan pernah ada suatu kaum yang serupa dengan mereka.” (Mudzakkirah ‘alal ‘Aqidah Wasithiyah, hal. 83-84)

Cintailah mereka!
Abu Ja’far Ath Thahawi rahimahullah mengatakan, “Kami -Ahlus Sunnah- mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami tidak melampaui batas dalam mencintai salah seorang di antara mereka. Dan kami juga tidak berlepas diri dari seorangpun di antara mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan kami juga membenci orang yang menceritakan mereka dengan cara yang tidak baik. Kami tidak menceritakan mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah termasuk agama, iman dan ihsan. Sedangkan membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan dan pelanggaran batas.” (Syarah ‘Aqidah Thahawiyah cet. Darul ‘Aqidah, hal. 488)

www.abumushlih.com

Jalan Nabi dan Pengikutnya

February 27th, 2010 Author: Abu Mushlih

Allah ta’ala berfirman,

قُلْ هٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah -hai Muhammad-: Inilah jalanku, aku mengajak untuk -mentauhidkan- Allah di atas landasan bashirah/ilmu. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku. Maha suci Allah, aku bukan tergolong bersama golongan orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)

Ayat yang mulia ini mengandung banyak pelajaran berharga bagi kita, di antaranya:

Yang dimaksud dengan dakwah ila Allah (mengajak manusia kepada Allah) adalah mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah, bukan dalam rangka meraih ambisi dunia, kepimpinan (baca: kursi), dan tidak juga kepada hizbiyah/fanatisme golongan (lihat al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 45). Dan perlu diingat bahwa yang dimaksud dengan dakwah tauhid di sini bukanlah sekedar meyakinkan umat manusia bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta (tauhid rububiyah). Akan tetapi yang dimaksud adalah mengajak mereka untuk bertauhid uluhiyah. Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “…para rasul tidak diutus untuk menetapkan tauhid rububiyah karena hal itu sudah ada, hanya saja hal itu tidak mencukupi. Akan tetapi Allah mengutus mereka untuk menetapkan tauhid uluhiyah, yaitu mengesakan Allah ta’ala dalam beribadah. Itulah agama para rasul dari sejak yang pertama hingga yang terakhir.” (Syarh Kitab Kasyfu Syubuhat, hal. 20). Kemudian, perlu diingat juga bahwa dakwah tauhid ini tidak sekedar mengajak manusia untuk mengucapkan la ilaha illallah tanpa memahami dan melaksanakan kandungannya [!]. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz ketika mengutusnya untuk berdakwah, “Hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah agar mereka beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla…” (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafazh Muslim. Lihat Syarh Muslim [2/49]). Maka bunyi hadits ini merupakan penafsiran riwayat lainnya yang berbunyi, “Jadikanlah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah syahadat la ilaha illallah dan aku adalah utusan Allah…” (lihat Syarh Muslim [2/47]). Ini menunjukkan bahwa sekedar mengucapkan la ilaha illallah tanpa diiringi dengan ketundukan beribadah kepada Allah belumlah mencukupi. Hal ini sekaligus mengisyaratkan bahwa ibadah kepada Allah tidak akan diterima kecuali apabila ikhlas untuk Allah (kandungan syahadat la ilaha illallah) dan dilakukan dengan mengikuti syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (kandungan syahadat Muhammad rasulullah). Hal ini juga menunjukkan bahwa inti dakwah tauhid adalah mengajak manusia untuk mencampakkan semua sesembahan selain Allah dan mempersembahkan semua ibadah hanya kepada Allah serta meninggalkan semua panutan yang menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Di dalam ayat ini terdapat peringatan untuk menjaga keikhlasan dalam berdakwah. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Karena sesungguhnya kebanyakan orang jika mengajak/berdakwah kepada kebenaran maka seringkali -menyimpang- sehingga justru mengajak orang lain untuk mengikuti dirinya sendiri.” (Kitab at-Tauhid yang dicetak bersama al-Qaul al-Sadid, hal 28). Orang yang ikhlas mengajak kepada kebenaran tentu saja akan merasa senang menerima kebenaran darimana pun datangnya, meskipun bukan melewati dirinya. Maka ayat di atas menunjukkan wajibnya ikhlas dalam berdakwah ila Allah (lihat al-Jadid, hal. 63)


Ayat ini menunjukkan bahwa jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengikutnya adalah mendakwahkan tauhid di atas ilmu. Hal ini sekaligus menunjukkan wajibnya mempelajari tauhid dan anjuran untuk memahaminya dengan sebaik-baiknya. Sehingga seorang muslim harus bersemangat dalam mempelajari akidah yang benar dan menyebarkannya. Inilah salah satu keistimewaan manhaj salaf! Syaikh Dr. Muhammad Sa’id Ruslan hafizhahullah mengatakan, “Salah satu keistimewaan pengikut manhaj salaf adalah bersemangat dalam menyebarkan akidah yang benar dan ajaran agama yang lurus. Bersemangat dalam memberikan pengajaran dan kebaikan kepada umat manusia. Dan bersemangat dalam membantah orang-orang yang menyimpang dan ahli bid’ah.” (Ceramah beliau yang berjudul Da’a-im Minhaj Nubuwwah)

Ayat ini juga menunjukkan bahwa seorang da’i harus mengetahui dengan jelas apa yang dia dakwahkan dan apa yang dia larang (lihat al-Mulakhash, hal. 46, al-Jadid, hal. 63). Dengan kata lain, wajib berilmu sebelum berdakwah. Sehingga hal ini menepis ajakan sebagian kelompok yang menghasung kaum muslimin untuk berdakwah kesana kemari namun tidak memperhatikan kapasitas keilmuan yang dimiliki. Bahkan di antara mereka demikian bersemangat untuk mengorbitkan kadernya supaya bisa menduduki posisi-posisi penting dalam organisasi kampus, lembaga pemerintahan, atau dewan perwakilan dengan dalih ‘untuk memberikan warna Islam dan memperbaiki dari dalam’. Padahal, ketika dicermati ternyata bekal ilmu yang mereka miliki untuk berdakwah sangatlah minim! Subhanallah, orang Arab bilang ‘Faaqidus syai’i laa yu’thii’ (orang yang tidak punya, tidak bisa memberi apa-apa). Bagaimana mereka mau mewarnai sementara mereka sendiri tidak tahu seperti apakah warna Islam yang sejati? Bagaimana mereka bisa memperbaiki sementara mereka sendiri tidak tahu seperti apa kebaikan yang sejati? Ya, nantinya mereka akan mengalami kejadian seperti yang dikatakan oleh salah seorang tokoh mereka sendiri, “Diwarnai dan bukannya mewarnai.” Dia juga mengatakan, “Sekarang sudah punya kekuasaan, berani nggak mendakwahkan tauhid dan memberantas syirik?”. Nah, apa ya mereka itu tidak mau berpikir? Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak punya ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati itu semua akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. al-Israa’: 36). Kami tak perlu meminta, namun bukti dan saksi telah berbicara…, bertaubatlah wahai harakiyyin!

Ayat ini menunjukkan wajibnya berlepas diri dan membenci syirik dan pelakunya (lihat al-Jadid, hal. 63). Itu artinya seorang muslim juga semestinya menjauhkan diri dari orang-orang musyrik dan tidak bergabung dengan komunitas mereka, sehingga semata-mata tidak berbuat syirik belum cukup baginya (lihat al-Mulakhash, hal. 47). Inilah yang dimaksud dengan istilah bara’ di dalam bab akidah, yaitu ‘memutus keterikatan hati dengan orang-orang kafir, tidak mencintai mereka, tidak membela mereka dan tidak menetap di negeri mereka -tanpa kepentingan yang dibenarkan-’ (lihat Kitab at-Tauhid li Shaff Awwal al-’Aali, hal. 96).
Membekali diri dengan ilmu merupakan kewajiban. Karena mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebuah kewajiban. Sementara hal itu tidak mungkin terwujud tanpa ilmu (lihat al-Mulakhash, hal. 46). Oleh sebab itu mempelajari tauhid -sebelum mendakwahkannya- adalah sebuah kewajiban, bahkan ia termasuk kewajiban yang paling agung!
Ayat ini juga menunjukkan salah satu rambu-rambu dakwah -sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Ali al-Halabi hafizhahullah dalam ceramahnya Manhaj al-Anbiya’ fi Da’wah ila Allah- bahwa dakwah semestinya ditegakkan secara berjama’ah (bersatu padu), bukan sendiri-sendiri (bercerai-berai). Sebagaimana diisyaratkan oleh ayat ini, “Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku”. Ini mengisyaratkan adanya persatuan/jama’ah. Sebagaimana dalam ayat lain Allah ta’ala menyebutkan, “Saling menasehati dalam kebenaran dan saling nenasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 3). Sebagaimana pula dalam ayat lain yang secara tegas memerintahkan, “Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah berpecah belah…” (QS. Ali Imran: 103). Dan juga ayat-Nya (yang artinya), “Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang musyrik, yaitu yang memecah belah agamanya sehingga menjadi bergolong-golongan. Masing-masing merasa bangga dengan apa yang ada pada diri mereka.” (QS. ar-Ruum: 31-32). Dan perkumpulan apa pun yang dibuat oleh manusia tentu saja menuntut adanya sikap saling pengertian, bukan sikap ingin menang sendiri dan saling meremehkan. Kalau orang yang di pasar saja dengan akidah dan manhaj yang berbeda-beda bisa ‘bersatu’ demi mendapatkan keuntungan dunia, lalu mengapa para da’i -yang konon katanya memiliki akidah dan manhaj yang sama- yang menginginkan keuntungan akherat dengan dakwahnya justru bertikai dan memusuhi sesamanya? Apakah kita telah melupakan prinsip yang agung ini ayyuhal ikhwah?

Ustadz Armen Halim Naro - Untukmu Yang Berjiwa Hanif

MNQ

Ustaz Armen Halim Naro (rahimahullaah)




















 
Powered by Blogger