Subscribe Twitter Facebook
Showing posts with label hikmah. Show all posts
Showing posts with label hikmah. Show all posts

Friday, April 16, 2010

HIKMAH ILAHI DALAM HADITS LALAT

sender:
تيغوه فريهاندكو
March 27 at 12:27pm



عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "إذا وقع الذباب في شراب أحدكم فليغمسه ثم لينزعه، فإن في أحد جناحيه داء وفي الآخر شفاء ً." رواه البخاري في صحيحه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:”Apabila lalat masuk/terjatuh ke dalam minuman salah seorang di antara kalian, maka celupkanlah (lalat itu) kemudian buanglah, karena sesungguhnya pada salah satu sayapnya ada penyakit (racun) dan pada sayap yang lainnya ada penawarnya.”(HR. al-Bukhari)

Takhrij Hadits:

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari 2/329, 4/71-72, ad-Darimi 2/99, Ibnu Majah 3505 dan Ahmad 2/398

Penjelasan Hadits

Hadits ini telah datang secara pasti dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan sebagian orang zaman dahulu dan sekarang telah mempermasalahkan hadits ini karena ketidak tahuan mereka. Dahulu Imam al-Khathabi rahimahullah berkata:”Telah memperbincangkan hadits ini orang-orang yang tidak memiliki bagian sama sekali dalam masalah ini, dan berkata:’Bagaimana berkumpul antara obat dan penyakit dalam kedua sayap lalat? Dan bagaimana ia tahu hal itu dari dirinya sendiri?...ini adalah soal orang jahil (bodoh) atau pura-pura bodoh. Karena sesungguhnya sebagian binatang telah terkumpul dalam dirinya dua hal yang bertentangan, dan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mempersatukan keduanya dan memaksanya untuk bersatu, dan menjadikan hal itu sebagai kekuatan pada binatang tersebut. Yang memberikan insting (ilham) kepada lebah untuk membangun sarangnya yang unik tentunya mampu untuk memberikan ilham kepada lalat untuk mendahulukan satu sayap dan mengakhirkan sayap yang lain.”sampai di sini perkataan Imam al-Khathabi

Pada zaman ini mereka yang mempermasalahkan hadits ini berkata:”Sesungguhnya hadits ini bertentangan dengan pokok-pokok penelitian ilmiah, bahwa lalat adalah sebab utama penularan penyakit, maka bagaimana mungkin pada lalat ada obat (penawar)nya? Mereka lupa bahwa sebagian besar masalah ilmiah yang mereka jadikan dalil, tidak lain hanyalah teori-teori semata, betapa banyak teori yang menyebutkan sesuatu bahwa hal itu benar pada hari ini, kemudian setelah berselang waktu baik lama maupun cepat ternyata hal itu salah.

Maka bagaimana mungkin teori-teori itu menjadi timbangan untuk menghukumi benar dan tidaknya nash-nash wahyu tersebut? Dan bagaimana mungkin orang yang ketidak tahuannya (ilmunya) lebih sedikit dari pengetahuannya (ilmu) menghukumi salah dan benar terhadap ilmu yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta'ala lewat lisan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?

Telah ditemukan sebuah penemuan baru dalam ilmu modern mukjizat Nabi dalam bidang kedokteran di dalam hadits ini. Majalah at-Tauhid di Mesir edisi 5 tahun 1397 H/1977M telah mempublikasikan hasil penelitian Dr.Amin Ridha (dosen bedah tulang di universtas Iskandariyah), yang menjelaskan bahwa ilmu modern menemukan bahwa dalam satu waktu yang bersamaan lalat membawa kuman-kuman yang menyebabkan penyakit, dan juga membawa bakteri “Faaj” yang melawan kuman-kuman tersebut. Bakteri “Faaj”maksudnya adalah pemangsa atau penerkam kuman-kuman.

Maka wajib bagi setiap muslim, untuk membenarkan setiap apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, baik hal itu ditetapkan dan dibenarkan oleh ilmu pengetahuan modern dan penelitian atau tidak, karena tidak ada perkataan yang dianggap kalau berbenturan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala ataupun sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Wallahu A’lam.

Faidah Hadits

1.Suci atau tidak najisnya lalat, baik ketika hidup maupun mati, dan bahwasanya suatu benda tidak menjadi najis apabila lalat hinggap dan mati di atasnya, baik benda itu padat maupun cair.

2.Anjuran untuk mencelupkan/menenggelamkan lalat yang sudah terjatuh masuk ke dalam minuman apabila benda itu adalah cair, adapun kalau benda itu padat maka lalatnya dibuang dan daerah yang dihinggapi di sekitarnya.

3.Sesungguhnya pada salah satu sayap lalat ada penyakit dan yang satu sayapnya ada penawar/obatnya. Maka apabila dia terjatuh ke dalam minuman maka dia mengangkat sayap yang ada penawar dan mencelupkan sayap yang ada penyakitnya. Maka termasuk hikmah Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah ketika Dia memerintahkan hambanya untuk mencelupkan lalat yang mati di dalam minuman supaya, obat/penawar pada sayap yang satunya supaya menetralkan dan menawarkan penyakit yang ada pada sayap. Adapun menumpahkan minuman tersebut adalah bentuk penyia-nyiaan harta yang dilarang oleh Allah. Dan syrai’at islam bukan hanya untuk generasi (zaman) tertentu atau bangsa tertentu, karena kadang kala minuman memiliki nilai yang sangat berharga pada suatu zaman, tempat atau bangsa tertentu.

4.Dalam hadits ini ada mukjizat ilmiah, dan ilmu pengetahuan modern telah menemukan penemuan baru yang menetapkan adanya kebenaran secara ilmiah, bahwa ada penyakit berbahaya pada salah satu sayap lalat dan obatnya pada sayap yang lain. Allah Subhanahu wa Ta'ala memiliki rahasia-rahasia dan hikmah tertentu dalam menetapkan setiap syariat/hukum.

5.Para ulama mengqiyaskan lalat dengan binatang yang tidak memiiki darah yang mengalir dalam masalah kesuciannya.

Bantahan Terhadap Orang Yang Meragukan Hadits Lalat.

Sebagian orang Zindiq mencela dan mengkritik hadits ini, bahkan celaan itu sampai kepada tingkat mencela sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Untuk menjawab celaan mereka terhadap hadits ini adalah sebagai berikut:

1.Hadits di atas adalah salah satu hadits yang dipilih oleh Imam Bukhari dimasukan ke dalam kitab Shahihnya karena keshahihan hadits tersebut.

2.Hadits lalat ini tidak hanya diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu secara tersendiri, akan tetapi ia juga diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, da Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, sebagaimana dalam hadits dalam Musanad Imam Ahmad.

3. Siapa mereka (para pencela hadits lalat) sehingga mencela salah seorang Sahabat dari Sahabat-sahabat radhiyallahu'anhum, bahkan sampai mencela orang yang paling hafalan terhadap hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam (yaitu Abu Hurairah) dan paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi. Yang Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mendoakanya supaya dia mudah menghafal dan susah untuk lupa,yang dia telah mengahiskan waktunya untuk hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, tidak dilupakan dengan pertanian dan tidak dilalaikan oleh perdagangn. Dia yang siang dan malam harinya hanya digunakan untuk mengikuti dan memperhatikan apa yang diucapkan Nabi, kemudian dia bergadang pada malam harinya untuk menghafal hadits Nabi supaya menancap kokoh di hatinya.

4. Syaikh Abdurrahman bin Yahya al-Mu’alimi berkata:”Para ilmusan mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui terhadap segala suatu, dan mereka masih secara terus-menerus melakukan penelitian-penelituian untuk menemukan penemuan-penemuan baru. Maka dengan iman apa mereka (pencela hadits Nabi) mengingkari dan menafikan kalau Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan pengetahuan kepada Nabi dengan suatu pengetahuan yang belum diketahui oleh ilmu pengetahuan modern. Dan Allahlah pencipta, pengatur alam semesta Dia adalah pembuat syariat (hukum).”

5. Para ilmuwan kedokteran modern menetapkan bahwa pada salah satu sayap lalat ada penyakit dan pada sayap yang lainnya ada obatnya. Dengan ini maka jelaslah sebuah kebenaran, dan tidak ada yang perkataannya lebih benar dari Allah Subhanahu wa Ta'ala .

Sumber:
dari: Taudhih al-Ahkam syarah Bulughul Maram hadits no.12, Syaikh Ali Bassam dan artikel tentang hadits lalat di www.islamweb.net .

Thursday, March 4, 2010

Bisa Jadi Kamu Membenci Sesuatu Namun Itu Baik Buatmu

Bisa Jadi Kamu Membenci Sesuatu Namun Itu Baik Buatmu

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Dalam ayat ini ada beberapa hikmah dan rahasia serta maslahat untuk seorang hamba. Karena sesungguhnya jika seorang hamba tahu bahwa sesuatu yang dibenci itu terkadang membawa sesuatu yang disukai, sebagaimana yang disukai terkadang membawa sesuatu yang dibenci, iapun tidak akan merasa aman untuk tertimpa sesuatu yang mencelakakan menyertai sesuatu yang menyenangkan. Dan iapun tidak akan putus asa untuk mendapatkan sesuatu yang menyenangkan menyertai sesuatu yang mencelakakan. Ia tidak tahu akibat suatu perkara, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh hamba. Dan ini menumbuhkan pada diri hamba beberapa hal:

1. Bahwa tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hamba daripada melakukan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, walaupun di awalnya terasa berat. Karena seluruh akibatnya adalah kebaikan dan menyenangkan, serta kenikmatan-kenikmatan dan kebahagiaan. Walaupun jiwanya benci, akan tetapi hal itu akan lebih baik dan bermanfaat. Demikian pula, tidak ada yang lebih mencelakakan dia daripada melakukan larangan, walaupun jiwanya cenderung dan condong kepadanya. Karena semua akibatnya adalah penderitaan, kesedihan, kejelekan, dan berbagai musibah.

Ciri khas orang yang berakal sehat, ia akan bersabar dengan penderitaan sesaat, yang akan berbuah kenikmatan yang besar dan kebaikan yang banyak. Dan ia akan menahan diri dari kenikmatan sesaat yang mengakibatkan kepedihan yang besar dan penderitaan yang berlarut-larut.

Adapun pandangan orang yang bodoh itu (dangkal), sehingga ia tidak akan melampaui permukaan dan tidak akan sampai kepada ujung akibatnya. Sementara orang yang berakal lagi cerdas akan senantiasa melihat kepada puncak akibat sesuatu yang berada di balik tirai permukaannya. Iapun akan melihat apa yang di balik tirai tersebut berupa akibat-akibat yang baik ataupun yang jelek. Sehingga ia memandang suatu larangan itu bagai makanan lezat yang telah tercampur dengan racun yang mematikan. Setiap kali kelezatannya menggodanya untuk memakannya, maka racunnya menghalanginya (untuk memakannya). Ia juga memandang perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala bagai obat yang pahit rasanya, namun mengantarkan kepada kesembuhan dan kesehatan. Maka, setiap kali kebenciannya terhadap rasa (pahit)nya menghalanginya untuk mengonsumsinya, manfaatnyapun akan memerintahkannya untuk mengonsumsinya.

Akan tetapi, itu semua memerlukan ilmu yang lebih, yang dengannya ia akan mengetahui akibat dari sesuatu. Juga memerlukan kesabaran yang kuat, yang mengokohkan dirinya untuk memikul beban perjalanannya, demi mendapatkan apa yang dia harapkan di pengujung jalan. Kalau ia kehilangan ilmu yang yakin dan kesabaran maka ia akan terhambat dari memperolehnya. Tetapi bila ilmu yakinnya dan kesabarannya kuat, maka ringan baginya segala beban yang ia pikul dalam rangka memperoleh kebaikan yang langgeng dan kenikmatan yang abadi.

2. Di antara rahasia ayat ini bahwa ayat ini menghendaki seorang hamba untuk menyerahkan urusan kepada Dzat yang mengetahui akibat segala perkara serta ridha dengan apa yang Ia pilihkan dan takdirkan untuknya, karena dia mengharapkan dari-Nya akibat-akibat yang baik.

3. Bahwa seorang hamba tidak boleh memiliki suatu pandangan yang mendahului keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau memilih sesuatu yang tidak Allah Subhanahu wa Ta’ala pilih serta memohon-Nya sesuatu yang ia tidak mengetahuinya. Karena barangkali di situlah kecelakaan dan kebinasaannya, sementara ia tidak mengetahuinya. Sehingga janganlah ia memilih sesuatu mendahului pilihan-Nya. Bahkan semestinya ia memohon kepada-Nya pilihan-Nya yang baik untuk dirinya serta memohon-Nya agar menjadikan dirinya ridha dengan pilihan-Nya. Karena tidak ada yang lebih bermanfaat untuknya daripada hal ini.

4. Bahwa bila seorang hamba menyerahkan urusan kepada Rabbnya serta ridha dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala pilihkan untuk dirinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan mengirimkan bantuan-Nya kepadanya untuk melakukan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala pilihkan, berupa kekuatan dan tekad serta kesabaran. Juga, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan palingkan darinya segala yang memalingkannya darinya, di mana hal itu menjadi penghalang pilihan hamba tersebut untuk dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan memperlihatkan kepadanya akibat-akibat baik pilihan-Nya untuk dirinya, yang ia tidak akan mampu mencapainya walaupun sebagian dari apa yang dia lihat pada pilihannya untuk dirinya.

5. Di antara hikmah ayat ini, bahwa ayat ini membuat lega hamba dari berbagai pikiran yang meletihkan pada berbagai macam pilihan. Juga melegakan kalbunya dari perhitungan-perhitungan dan rencana-rencananya, yang ia terus-menerus naik turun pada tebing-tebingnya. Namun demikian, iapun tidak mampu keluar atau lepas dari apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah taqdirkan. Seandainya ia ridha dengan pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala maka takdir akan menghampirinya dalam keadaan ia terpuji dan tersyukuri serta terkasihi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bila tidak, maka taqdir tetap akan berjalan padanya dalam keadaan ia tercela dan tidak mendapatkan kasih sayang-Nya karena ia bersama pilihannya sendiri. Dan ketika seorang hamba tepat dalam menyerahkan urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ridhanya kepada-Nya, ia akan diapit oleh kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya dalam menjalani taqdir ini. Sehingga ia berada di antara kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya. Kasih sayang-Nya melindunginya dari apa yang ia khawatirkan, dan kelembutan-Nya membuatnya merasa ringan dalam menjalani taqdir-Nya.

Bila taqdir itu terlaksana pada seorang hamba, maka di antara sebab kuatnya tekanan taqdir itu pada dirinya adalah usahanya untuk menolaknya. Sehingga bila demikian, tiada yang lebih bermanfaat baginya daripada berserah diri dan melemparkan dirinya di hadapan taqdir dalam keadaan terkapar, seolah sebuah mayat. Dan sesungguhnya binatang buas itu tidak akan rela memakan mayat.

(Diterjemahkan oleh Qomar ZA dari buku Al-Fawa`id hal. 153-155)

sumber : www.asysyariah.com
 
Powered by Blogger